Perlengkapan Keagungan Adat



1. PayungAgung

Payung Agung, salah satu tanda keagungan dan kebesaran Sai Batin sebagai pengayom masyarakat yang dipimpinnya. Sampai dengan masa Sai Batin Pangeran Suhaimi, payung agung hanya dikenakan Sultan/Sai Batin. Payung Agung Sai Batin dapat berwarna apa saja, kecuali warna hijau. Payung Agung selalu dikembangkan menyertai langkah Sai Batin. Apabila Sai Batin berkunjung ke Jukkuan maka payung agung dikembangkan guna memayungi pada saat proses arak-arakan. Apabila Sai Batin masuk ke dalam rumah/ruang perhelatan Jukkuan yang sedang nayuh maka payung agung tetap dikembangkan di belakang tempat duduk Sai Batin. Apabila Sai Batin tidak bisa hadir sendiri dan mengirim utusan, maka yang ditegakkan di depan rumah tetapi tidak dikembangkan (dibiarkan kuncup) adalah Payung Songsong Kuning, tanda bahwa utusan Sai Batin yang hadir di dalam rumah empunya hajat. Begitupun saat prosesi arak-arakan, payung songsong kuning tetap ditampilkan mengiring disamping wakil Sai Batin tetapi tidak dikembangkan. Utusan yang mewakili Sai Batin tetap dipayungi dengan payung lain warna hijau. Sementara songsong kuning Sai Batin tetap ikut diarak dalam keadaan tidak mengembang (kuncup). Namun sejak tahun 1950 mulai ada Kepala Jukku/Jukkuan yang membuat payung agung. Maksudnya, agar setiap kali Sai Batin memenuhi permohonan masyarakat hadir di Jukkuannya, payung agung sudah tersedia. Perkembangan berikutnya agak menyimpang, payung agung itu juga digunakan sebagai payung kebesaran Jukkuan.


2. Lalamak, Titi Kuya, Jambat Agung

Lalamak, berupa tikar anyaman daun pandan yang dialas kain panjang dengan dijahitkan. Sedangkan Titi Kuya adalah talam terbuat dari kuningan. Talam ini diletakkan di atas lalamak. Setiap lembar lalamak ditempatkan dua titi kuya. Jambat Agung adalah selendang tuha atau angguk khusus segi empat yang diletakkan di atas titi kuya. Ketiga peralatan upacara adat ini berfungsi sebagai satu kesatuan dalam menyediakan titian atau alas menapak Sai Batin pada saat berjalan memasuki tempat perhelatan setelah selesai upacara arakarakan. Ketiga alat menjadi satu paket rangkaian, dan biasanya disiapkan lebih dari satu paket sambung sinambung. Tiap alat dipegang sambung menyambung oleh perempuan-perempuan berpasangan, berjajar dan duduk bersimpuh di permukaan tanah. Lalamak-Titi Kuya-Jambat Agung satu rangkaian padu alas langkah Sai Batin. Setelah Sai Batin menapakkan langkah kakinya di atas lapisan tiga alat tersebut, maka perempuan pemegangnya harus membawa alatnya menyambung ke arah depan Sai Batin melangkah. Jangan sampai telapak kaki Sai Batin langsung menginjak tanah sampai dengan tempat duduknya. Lalamak, Titi Kuya, dan Jambat Agung adalah gambaran kesetiaan, pengabdian sekaligus kasih sayang masyarakat adat Sekala Brak terhadap Sai Batinnya.
Perlengkapan Keagungan Milik Para Sai Batin Nomor 06
Dalam pedoman pemakaian Lalamak yang ditulis H. Ibnu Hadjar gelar Raja Sempurna disebutkan, Lalamak diletakkan berbaris 4-6 lembar di jalan dengan kain panjangnya di atas. Di atas Lalamak diletakkan Titi Kuya masing-masing dua buah. Di atas Titi Kuya dibentangkan Jambat Agung berupa Selendang Tuha. Namun, apabila Jambat Agung kain angguk segi empat seukuran Titi Kuya maka tiap-tiap Titi Kuya diletakkan satu lembar dan tidak lagi dibentangkan selendang tuha (yang panjang). Rangkaian Lalamak ini dipasang bila Sai Batin mulai berjalan dalam arakarakan dengan tanda momentum pada saat Sai Batin memasukiAwan Geminsir, Lalamak dipasang. Atau sewaktu Sai Batin keluar dari Awan Geminsir, Lalamak dibentangkan.
Perempuan pembawa Lalamak, Titi Kuya dan, Jambat Agung ditugaskan kepada nabbai ni sekedau tayuhan dipilih yang masih muda, lincah, sopan, dan penuh disiplin. Mereka harus bukan perempuan sembarangan. Pada saat kaki Sai Batin menginjak, para pemegang wajib tetap memegang alat tersebut, dilarang ditarik sebelum kaki Sai Batin lewat. Karena salah satu tanda kebesaran dan keagungan Sai Batin terletak pada saat kakinya menginjak lalamak. Setelah kaki Sai Batin lewat (ngejapang) baru diangkat dan dibawa berpindah ke posisi berikutnya.


3. Aban Gemisikh/Awan Gemisikh

Aban Gemisir merupakan salah satu perlengkapan adat yang menjadi bagian dari tradisi peninggalan nenek moyang masyarakat Lampung, khususnya di Sekala Brak sebagai tempat bermulanya adat saibatin di Provinsi Lampung. Aban Gemisir atau ada pula yang menyebutnya Awan Gemiser merupakan sebuah alat perlengkapan adat yang dihadirkan untuk seorang pimpinan adat atau saibatin yang akan melakukan prosesi perjalanan adat seperti arak arakan atau disebut “ lapah buharak”, hingga saat ini perlengkapan adat tersebut masih dianggap hal yang spesial atau terkhusus, sebab tidak sembarang orang bisa memakainya.
Untuk membuatnya dirangkailah kayu dengan bentuk kubus, dibuat pegangan pada setiap sudutnya dan kemudian dihias dengan kain kain pedandanan khas adat saibatin Sekala Brak, untuk ukuran ruang kubus biasanya seukuran yang bisa dimasuki empat orang dewasa, sedangkan kain penghias yang digunakan untuk Aban Gemisir diantaranya adalah kain selindang miwang atau selindang balak, kain sulam benang emas ambumbak dan lelangsi, jiwang ratu, dan dibagian atasnya ditutupi dengan kain disebut leluhokh yang berfungsi sebagai penghias dan juga untuk menaungi orang yang berada didalam dari sinar matahari langsung. Adapun kedudukan perlengkapan adat ini adalah sebagai tanda kebesaran seorang saibatin, menunjukkan eksistensi seorang saibatin ditengah masyarakat adatnya, selain itu juga Aban Gemisir ini sebagai wujud kecintaan dan penghormatan masyarakat kepada pimpinan adatnya.