Pengertian Sekala Brak



Kerajaan Sekala Brak dianggap sebagai simbol peradaban, kebudayaan dan eksistensi orang Lampung. Penyebutan Lampung berasal dari kata "Anjak Lambung" yang artinya dari dataran tinggi yakni lereng gunung pesagi yang merupakan gunung tertinggi di Lampung. Ada beberapa teori tentang makna Sekala Brak. Sekala = Titisan sedangkan Brak (Beghak) = Dewa; Mulia. Sehingga Sekala Brak dimaknai dengan titisan yang mulia. Beberapa kajian yang dilakukan oleh sejumlah sejarawan Belanda antara lain Groenevelet, L.C Westermenk dan Hellfich, secara umum mengarah pada persamaan persepsi yaitu bahwa Sekala Brak merupakan daerah asal usul orang lampung. Pengelana dari China, I Tsing (635-713) pernah berada dijambi dan konon pernah menetap di Sriwijaya selama 10 tahun (685-695). Dalam perjalanan itu menyebut "To Lang Pohwang" yang di duga berasal dari bahasa Hokian yang berarti "orang atas" atau "orang-orang yang berada diatas". I Tsing mungkin menunjuk orang-orang yang tinggal di lereng Gunung Pesagi atau Suku Tumi. Wiliam Marsden melalui sejarah Sumatera, terbit pertama kali pada tahun 1779 dengan judul The History Of Sumatera. Beberapa kali diterbitkan ulang, pada tahun 2008 terbit dalam versi Bahasa Indonesia menulis bahwa apabila orang Lampung ditanya tentang dari mana mereka berasal, maka mereka akan menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah gunung yang tinggi serta sebuah danau yang luas. (Marsden 2008), gunung dan danau yang dimaksud adalah gunung pesagi dan danau ranau. Suku Tumi memeluk agama Hindu Bairawa, mereka mengagungkan "Belasa Kepampang" sebuah pohon keramat bercabang dua yang terdiri dari cabang nangka dan cabang sebukau (kayu bergetah), konon bila menyentuh getah cabang sebukau orang bisa terkena penyakit kulit, namun penyakit tersebut dapat segera disembuhkan dengan getah cabang nangka yang terdapat dipohon itu. Kepercayaan ini tidak hanya diterima di Sekala Brak tetapi juga di daerah-daerah lain sepanjang aliran Way Komering, Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Tulang Bawang, Way Umpu, Way Rarem dan Way Besai. Ketika Pemerintahan islam menguasai Sekala Brak, Pohon "Belasa Kepampang" ditebang dan kayunya dipergunakan untuk membat pepadun. pepadun adalah singgasana raja yang hanya boleh digunakan atau diduduki pada saat penobatan Sultan Sekala Brak beserta keturunannya.

Tumbangnya pohon "Belasa Kepampang" menandai runtuhnya kekuasaan suku tumi sekaligus musnahnya aliran aninisme dibumi Sekala Brak. Terdapat beberapa makna filosofi yang terkandung dalam kata "Pepadun" yaitu :

  1. Pepadun merupakan perpaduan dari dua jenis kayu yaitu kayu melasa dan kayu sebukau sebagai bahan asli dari singgasana pepadun.
  2. Pepadun dimaknai sebagai perpaduan yang dimaksudkan kebersamaan dan keterpaduan dari empat Paksi di Paksi Pak Sekala Brak.
  3. Pepadun dimaknai sebagai pepadun yang dimaksudnya memadukan pengesahan atau pengakuan masyarakat terhadap sosok orang yang duduk diatasnya sebagai sultan / raja berdaulat.
  4. Pepadun dimaknai sebagai perpaduan, dalam arti bersatunya masyarakat ataupun rakyat, kerabat dibawah kedudukan dari sultan sebagai raja yang berdaulat.
  5. Pepadun dimaknai sebagai peaduan, yang maksudnya tempat mengadukan segala persoalan, maka orang yang duduk diatasnya berwenang memberikan keputusan terhadap perkara-perkara yang diadukan.

ujimuchariroh@yahoo.com : dfhgsdklfzs;lgjrd


ujimuchariroh@yahoo.com : ufhiejfskef